tim cahillBanderol transfer klub China Super League sudah dipecahkan sebanyak empat kali hanya dalam kurun waktu sebulan. Bomber Shanghai Shenhua, Tim Cahill, pun meyakini hal tersebut belum akan berhenti.

CSL bisa dibilang sedang jor-joran dalam merekrut pemain-pemain kondang jebolan liga Eropa, salah satu yang datang dalam eksodus ini adalah Cahill.

Shanghai SIPG merupakan klub pertama yang memecahkan rekor itu ketika merekrut Elkeson dari Guangzhou Evergrande Taobao dengan mahar 18 juta euro. Namun angka tersebut masih sangat kecil di bursa transfer Liga China.

Jiangsu Suning kemudian memboyong Ramires dari Chelsea seharga 28 juta euro, kemudian Guangzhou Evergrande menebus Jackson Martinez dari Atletico Madrid dengan 42 juta euro. Jiangsu lagi-lagi mematahkan rekor transfer Alex Teixeira seharga 50 juta euro.

Gervinho dan Fredy Guarin pun ikut mencoba peruntungan di CSL pada musim dingin ini menyusul jejak Paulinho, Demba Ba, Stephane Mbia, dan Asamoah Gyan yang telah bergabung musim lalu.

Cahill juga berpeluang berada satu tim dengan pemain serang Saint-Germain, Ezequiel Lavezzi di Shenhua. Ia menilai angka transfer klub China bisa menggila di waktu mendatang.

“Ketika kali pertama mendarat di China, saya telah melihat visi para klub. Saya tahu maksud dan apa yang mereka inginkan. Sekarang cukup gila bisa melihat semua ini terjadi,” ujar Cahill pada Fox Sports.

“Ini sangat gila, namun bisa lebih gila lagi. Mereka bisa dengan mucah memecahkan rekor transfer 100 juta euro,” tambah pemain Timnas Australia tersebut.

Menurut pemain Australia berusia 36 tahun itu, keputusan pemain-pemain dari klub Eropa memilih China adalah murni karena uang semata.

“Keputusan para pemain soal sepakbola berbeda ketika saya masih muda, ini murni tentang keuntungan pribadi. Pemain pun diuji dengan kehidupan di China. Saya tinggal di Shanghai, kota besar. Sejumlah tempat masih cukup sulit,” imbuh Cahill.